Awal Aksi di Jakarta

Pada 25 Agustus 2025, pusat ibu kota kembali menjadi saksi salah satu aksi unjuk rasa terbesar pasca-reformasi. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Jabodetabek, buruh, hingga masyarakat sipil berkumpul di depan Gedung DPR RI.
Tuntutan utama massa adalah pembatalan kebijakan kenaikan tunjangan DPR, yang dinilai tidak masuk akal di tengah krisis ekonomi. Poster-poster dengan tulisan “DPR Kaya, Rakyat Sengsara” dan “Tolak Tunjangan DPR!” memenuhi jalanan Senayan.
Awalnya aksi berlangsung tertib. Massa duduk di jalan sambil menyanyikan lagu perjuangan, orasi digemakan dari atas mobil komando, dan aparat keamanan berjaga di sekitar kawasan. Namun, kondisi berubah cepat ketika sebagian massa mencoba merangsek lebih dekat ke pagar gedung DPR.
Pecahnya Bentrokan
Sekitar pukul 15.30 WIB, aparat mulai melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa. Situasi yang sebelumnya damai berubah menjadi kacau. Mahasiswa berlarian menyelamatkan diri, sementara sebagian lainnya melawan dengan melempari batu dan botol ke arah aparat.
Bentrok semakin parah ketika pagar barikade didorong oleh ribuan mahasiswa. Suasana mencekam melanda kawasan Senayan. Suara sirene, teriakan, dan kepulan asap gas air mata memenuhi udara Jakarta sore itu.
Korban Jiwa: Gugurnya Affan Kurniawan

Dalam kerusuhan tersebut, seorang mahasiswa bernama Affan Kurniawan (21 tahun), mahasiswa Universitas Indonesia, dinyatakan tewas. Menurut kesaksian teman-temannya, Affan terkena proyektil keras di bagian kepala saat mencoba menolong rekannya yang pingsan akibat gas air mata.
Jenazah Affan dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan kabar kematiannya langsung menyulut gelombang emosi publik. Di media sosial, tagar #AffanKurniawan menjadi trending nomor satu. Banyak netizen menuliskan pesan belasungkawa sekaligus kemarahan terhadap tindakan represif aparat.
Ratusan Luka-Luka
Selain Affan, tercatat lebih dari 200 orang luka-luka akibat bentrokan tersebut. Sebagian besar mengalami sesak napas akibat gas air mata, luka memar karena pentungan, dan beberapa mengalami luka serius diduga akibat terkena peluru karet.
Tim medis dari Palang Merah Indonesia (PMI) dan relawan mahasiswa membuka posko darurat di sekitar lokasi untuk menangani korban. Namun, banyak korban yang terlambat ditangani karena akses menuju lokasi bentrok terhambat barikade polisi.
Reaksi Pemerintah
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) menyatakan bahwa aksi mahasiswa telah “diluar kendali” sehingga aparat perlu mengambil tindakan tegas. Namun, pernyataan ini justru memperburuk amarah publik.
Sementara itu, Komnas HAM menegaskan akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran HAM dalam penanganan aksi tersebut.
Resonansi Publik
Tragedi ini langsung mengingatkan masyarakat pada peristiwa kelam tahun 1998 dan 2019, ketika mahasiswa juga menjadi korban dalam demonstrasi besar. Banyak tokoh masyarakat, akademisi, hingga seniman angkat suara menyerukan “Reformasi Dikorupsi Jilid II”.
Gelombang aksi solidaritas pun mulai bermunculan di berbagai kota, menandai bahwa perlawanan rakyat tidak berhenti hanya di Jakarta.
Awal Aksi Damai
Pada 25 Agustus 2025, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Jabodetabek turun ke jalan menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI Jakarta. Mereka menolak kenaikan tunjangan DPR, yang dianggap tidak masuk akal di tengah kondisi ekonomi rakyat yang semakin sulit.
Suasana awalnya kondusif. Massa duduk di jalan sambil menyanyikan lagu perjuangan, membentangkan poster bertuliskan “Tolak Tunjangan DPR” hingga “Rakyat Miskin, DPR Kaya”. Orasi dari atas mobil komando menyuarakan kemarahan publik, sementara aparat kepolisian berjaga ketat di sekitar lokasi.
Pecahnya Bentrokan
Sekitar pukul 15.30 WIB, ketegangan mulai meningkat. Sebagian mahasiswa mencoba merangsek mendekati pagar DPR. Aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Situasi yang tadinya damai berubah menjadi ricuh.
Mahasiswa berlarian menghindari kepulan gas, namun sebagian membalas dengan melempari batu dan botol. Bentrokan tak terhindarkan. Jalanan Senayan mendadak mencekam dengan suara sirene, teriakan, dan asap gas air mata.
Gugurnya Seorang Mahasiswa
Dalam bentrokan itu, seorang mahasiswa bernama Affan Kurniawan (21) dari Universitas Indonesia dinyatakan meninggal dunia. Berdasarkan keterangan saksi, Affan terkena proyektil di bagian kepala saat menolong rekannya yang jatuh pingsan.
Jenazahnya dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo, dan kabar duka ini langsung menyebar luas. Tagar #AffanKurniawan menjadi trending nomor satu di media sosial, memicu gelombang simpati sekaligus kemarahan publik.
Ratusan Korban Luka
Selain korban jiwa, lebih dari 200 orang luka-luka dalam kerusuhan. Sebagian besar mengalami sesak napas akibat gas air mata, memar karena pentungan, dan beberapa terkena peluru karet.
Relawan mahasiswa bersama tim medis PMI mendirikan posko darurat di sekitar lokasi. Namun, evakuasi korban terkendala barikade aparat, membuat penanganan berjalan lambat.
Reaksi Pemerintah dan Publik
Menkopolhukam menyebut aksi mahasiswa “di luar kendali”, sehingga aparat dianggap perlu bertindak tegas. Pernyataan ini menuai kritik tajam.
Sementara itu, Komnas HAM berjanji melakukan investigasi mendalam. Akademisi, tokoh masyarakat, hingga seniman menilai tragedi ini sebagai tanda mundurnya demokrasi.
Publik pun menyebut peristiwa ini sebagai “Reformasi Dikorupsi Jilid II”, mengingatkan pada tragedi 1998 dan 2019 ketika mahasiswa juga menjadi korban.
Gelombang Solidaritas
Kematian Affan menjadi pemantik solidaritas nasional. Di berbagai kota, mahasiswa dan masyarakat menggelar aksi doa bersama, tabur bunga, hingga demonstrasi lanjutan.
Tragedi ini seakan membuka babak baru perlawanan rakyat terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil dan pengelolaan negara yang dinilai semakin menjauh dari demokrasi.
